Kamis, 19 Oktober 2017

Definisi / Pengertian Anggaran Menurut Para Ahli

Pengertian Anggaran Menurut Para Ahli

Pengertian Anggaran Menurut Para Ahli

Pengertian Anggaran Menurut Para Ahli - Anggaran yaitu suatu alat bagi manajemen dalam melakukan perencanaan dan pengendalian terhadap perusahaan. Anggaran menurut Simamora (2002:202) yaitu sebagai berikut: “Anggaran (budget) yaitu sebuah rencana kuantitatif aktivitas usaha sebuah organisasi; anggaran mengidentifikasi sumber daya dan komitmen yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan organisasi selama periode dianggarkan.”

Menurut Munandar (2007:1) “Anggaran merupakan Busniess Budget (anggaran perusahaan) atau budget (anggaran) yaitu suatu rencana yang disusun secara sistematis, meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam satuan (unit moneter), dan berlaku untuk jangka waktu tertentu yang akan datang.”

Anggaran juga dapat diartikan sebagai istilah perencanaan untuk pengendalian laba menyeluruh dapat didefenisikan secara luas sebagai suatu anggaran sistematis dan formal untuk perencanaan, pengkoordinasian dan pengendalian tanggung jawab manajemen (Welsch, 2000:5).

Menurut Nafarin, (2004:11), “anggaran yaitu rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif untuk jangka waktu tertentu dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang, tetapi dapat juga dinyatakan dalam satuan barang maupun jasa”.

Menurut Sofyan (2006:14) “anggaran yaitu suatu pendekatan yang sistematis dan formal untuk tercapainya pelaksanaan fungsi perencanaan sebagai alat membantu pelaksanaan tanggung jawab manajemen”.

Dari beberapa pengertian anggaran yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa anggaran yaitu rencana kerja sistematis yang dinilai dengan uang yang dibuat dalam bentuk angka-angka serta disusun  dalam suatu atau beberapa periode tertentu yang dipakai sebagai alat perencanaan, pengkoordinasian yang terpadu dan pengendalian tanggung jawab manajemen melalui proses tertentu.

Keuntungan dan Kelemahan Anggaran  

a.  Keuntungan  Anggaran  
Sistem anggaran memiliki biaya dan memerlukan pengorbanan tetapi dibalik pengorbanan itu banyak keuntungan. Keuntungan anggaran  antara lain yaitu :
  1. Mempercepat dan mengefesienkan pencapaian tugas.  
  2. Mengurangi tugas-tugas rutin operasional pimpinan sehingga ia lebih terfokus kepada hal-hal yang bersifat jangka panjang dari stategis. 
  3. Meningkatkan daya kopetensi, motivasi, dan menimbulkan proses penilaian yang lebih objektif.  
  4. Dapat menilai kemajuan kerja (progress) pencapaian tujuan.  
  5. Dapat mengetahui lebih dini setiap penyimpangan dari tujuan.  
  6. Dapat membedakan antara yang efisien dan yang tidak efisien. 
  7. Mengurangi hal-hal yang bersifat kabur, ambivalen, atau ambigius.  
  8. Dapat memantapkan pelaksanaan manajemen, pengawasan, akuntansi secara lebih baik. 
  9. Dapat mengarahkan kegiatan kebidang yang lebih menguntungkan.  
  10. Dapat menilai prestasi karyawan atau bagian yang lebih objektif.  
b.  Kelemahan Anggaran  
Meskipun begitu banyak keuntungan yang diperoleh dengan menyusun anggaran, tetapi masih terdapat beberapa kelemahan yang membatasi anggaran.

Kelemahan - kelemahan tersebut antara lain : 
  1. Anggaran hanya yaitu rencana, dan rencana tersebut baru berhasil apabila dilaksanakan sungguh-sungguh. 
  2. Anggaran hanya yaitu suatu alat yang dipergunakan untuk membantu manajer dalam melaksanakan tugasnya, bukan menggantikannya.  
  3. Kondisi yang terjadi tidak selalu seratus persen sama dengan yang diramalkan sebelumnya, karena itu anggaran perlu memiliki sifat yang luwes.  
  4. Anggaran harus disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi. 
Referensi
  • Munandar, M. 2001. Budgeting. Perencanaan Kerja, Pengkoordinasian Kerja, Pengawasan Kerja. Edisi 1. Cetakan 14. BPFE: Yogyakarta.  
  • Welsch, Hilton, Gordon. 2000.  Anggaran Perencanaan dan Pengendalian Laba. Diterjemahkan oleh Purwatiningsih dan Maudy Warouw. Buku Satu. Salemba Empat. Jakarta.

Senin, 16 Oktober 2017

Definisi / Pengertian Kompensasi Menurut Para Ahli

Pengertian Kompensasi

Pengertian Kompensasi

Kompensasi merupakan sesuatu yang diterima karyawan sebagai pengganti kontribusi jasa mereka pada perusahaan (Rivai, 2004: 357). Definisi lain kompensasi atau penghargaan adalah setiap bentuk penghargaan yang diberikan kepada karyawan sebagai balas jasa atas kontribusi yang mereka berikan kepada organisasi (Panggabean, 2004: 75).

Tujuan utama pemberian kompensasi adalah untuk menarik pegawai yang berkualitas, mempertahankan, memotivasi dan membangun komitmen karyawan (Hariandja, 2002:245).

Dari kedua pngertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa kompensasi merupakan balas jasa yang diberikan oleh organisasi / perusahaan kepada karyawan, yang dapat bersifat finansial maupun non finansial, pada periode yang tetap. Sistem kompensasi yang baik akan mampu memberikan kepuasan bagi karyawan dan memungkinkan perusahaan memperoleh, mempekerjakan, dan mempertahankan karyawan. Pada saat dikelola dengan benar kompensasi membantu organisasi mencapai tujuan-tujuannya dan memperoleh, memelihara serta mempertahankan tenega kerja yang produktif.

Dalam teori neoklasik menyatakan bahwa karyawan memperoleh upah senilai dengan pertambahan hasil marginalnya. Upah berfungsi sebagai imbalan atas usaha kerja yang diberikan seseorang tersebut kepada pengusaha (Sumarsono, 2003 dalam Mutiara S.P 2004: 103)

Menurut Handoko (2000: 155), bila kompensasi diberikan secara benar, para keryawan akan lebih terpuaskan dan termotivasi untuk mencapai sasaransasaran organisasi. Sebaliknya bila karyawan memandang kompensasi mereka tidak memadai, prestasi kerja, motivasi dan kepuasan kerja bisa turun secara drastis.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, kompensasi bukan saja mempunyai fungsi ekonomis, adalah sebagai imbalan atas jasa kerja yang diberikan, tetapi juga mempunyai fungsi social dan fungsi insentif adalah sebagai pendorong bagi pekerja untuk bekerja lebihn produktif.

Jenis Kompensasi

Pada dasarnya kompensasi dapat dikelompokan ke dalam dua kelompok, adalah kompensasi financial dan kompensasi non finansial atau bukan finansial. Selanjutnya kompensasi finansial ada yang langsung dan ada yang tidak langsung. Sedangkan kompensasi non finansial dapat berupa pekerjaan dan lingkungan pekerjaan (Panggabean, 2004: 77).

Kompensasi finansial langsung terdiri atas gaji, upah, dan insentif(komisi dan bonus). Kompensasi finansial tidak langsung dapat berupa berbagai fasilitas dan tunjangan.
1). Kompensasi Finansial Langsung
a. Gaji
Gaji adalah balas jasa dalam bentuk uang yang diterima pegawai sebagai konsekuensi dari kedudukannya sebagai seorang pegawai yang memberikan sumbangan dalam mencapai tujuan oerganisasi (Hariandja, 2002: 245). Masalah penggajian menjadi sangat penting baik bagi karyawan maupun perusahaan. Bagi perusahaan arti penting pemberian gaji harus dilakukan secara benar merupakan upaya perusahaan untuk mempertahaankan sumber daya manusianya. Bila penggajian tidak dilakukan secara tepat, perusahaan bisa kehilangan karyawan yang baik dan harus mengeluarkan biaya untuk melakukan perekrutan karyawan kembali. Bila karyawan tidak keluar yang terjadi adalah mereka menjadi tidak puas dalam bekerja dan terhadap perusahaan. Selain itu yang penting adalah pemberian gaji merupakan komponen-komponen biaya yang paling besar dan penting bagi perusahaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gaji adalah imbalan jasa berupa uang yang dibayarkan tiap minggu, tiap bulan atau tiap tahun. Arti penting gaji menghendaki penentuannya harus dilakukan dengan baik supaya fungsional sebagai alat untuk memotivasi karyawan dalam meningkatkan kinerjanya.

b. Upah
Upah merupakan imbalan finansial langsung yang dibayarkan kepada para pekerja berdasarkan jam kerja, jumlah barang yang dihasilkan atau banyaknya pelayanan yang diberikan. Jadi tidak seperti gaji yang jumlahnya relatif tetap, besarnya upah dapat berubah-ubah. Pada dasarnya gaji atau upah diberikan untuk menarik calon pegawai supaya mau masuk menjadi karyawan.

c. Insentif
Insentif merupakan imbalan langsung yang dibayarkan kepada karyawan karena kinerjanya melebihi standar yang telah ditentukan. Dengan mengasumsikan bahwa uang dapat digunakan untuk mendorong karyawan bekerja lebih giat lagi, maka mereka yang produktif lebih menyukai gajinya dibayarkan berdasarkan hasil kerja. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk menentukan standar yang tepat. Tidak terlau mudah untuk dicapai dan juga tidak terlalu sulit. Standar yang tetrlalu mudah tentunya tidak menguntungkan bagi perusahaan, sedangkan yang terlalu sulit akan menyebabkan karyawan frustasi.

2). Kompensasi Finansial Tidak Langsung 
Kompensasi tidak langsung merupakan kompensasi tambahan yang diberikan berdasarkan kebijaksanaan perusahaan terhadap semua karyawan dalam
usaha meningkatkan kesejahteraan para karyawan. Kompensasi tidak langsung ini dapat berupa tunjangan. Tunjangan dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Samsudin, 2006, dalam buku Malayu Hasibuan 2003:136-138)
a Tunjangan Upah Suplemental
Tunjangan upah suplemental adalah tunjangan bagi waktu tidak aktif bekerja. Tunjangan ini mencakup asuransi, upah cuti dan liburan, upah sakit dan uang pesangon.

b. Tunjangan Asuransi
Tunjangan ini biasanya dalam bentuk asuransi jiwa, asuransi perawatan rumah sakit dan asuransi cacat. Biaya tunjangan asuransi ini dapat dikendalikan dengan cara :
  • Menyaring karyawan yang cenderung mendapat kecelakaan dan nmengurangi kondisi yang menyebabkan kecelakaan dalam fasilitas perusahaan
  • Mengurangi kecelakaan dan masalah kesehatan yang memicu tuntutan, misalnya dengan melembagakan keselamatan efektif dan program kesehatandengan menggunakan standar pemerintah.
  • Melembagakan lembaga rehabilitas untuk karyawan yang mendapat kecelakaan sehingga mereka dapat kembali bekerja.
c. Tunjangan Pensiun
Tunjangan pensiun yang dimaksud disini adalah jaminan sosial dan pensiun atau tunjangan ahli waris. Tunjangan pensiun yang diberikan kepada karyawan merupakan suatu bentuk peghargaan orgnisasi kepada pegawai/karyawan. Dengan adanya tunjangan pensiun, karyawan tidak akan
mengalami kekhawatiran ketika telah purna tugas. Tunjangan pension memiliki dua pengaruh penting adalah adanya ketenangan karyawawan/pegawai tentang adanya jaminan masa tuanya dan adanya motivasi yang di miliki karyawan/pegawai untuk melaksanakan tugs dengan sebaik-baiknya guna
meminimalisir adanya pemutusan hubungan kerja secara sepihak oleh yang berwenang sehingga karyawan/pegawai tersebut kehilangan hak-haknya sebagai karyawan sekaligus kehilangan jaminan masa tuanya.

d Tunjangan Jasa atau Tunjangan Pelayanan Pegawai
Pada umumnya menyediakan suatu jajaran pelayanan fasilitas bagi karyawan selain memberikann tunjangan-tunjangan tersebut di atas. Tunjangan jasa biasanya diberikan perusahaan kepada karyawan dalam bentuk jasa makanan, peluang rekreasi, jasa-jasa hukum, konseling dan koperasi kredit.

Berdasarkan uraian diatas, maka indikator Kompensasi dalam penelitian ini didasarkan pada pendapat Panggabean (2004:77) yang terdiri dari
  1. Gaji: Gaji merupakan imbalan finansial yang dibayarkan kepada karyawan secara teratur.
  2. Insentif: Insentif merupakan imbalan langsung yang dibayarkan kepada karyawan karena kinerjanya melebihi standar yang ditentukan.
  3. Tunjangan: Tunjangan adalah pemberian sesuatu kepada karyawan, baik berupa uang atau barang, namun sifatnya tertentu saja.
Berdasarkan beberapa konsep di atas dapat disimpulkan bahwa kompensasi merupakan bentuk balas jasa dari perusahaan dan sebagai bentuk motivasi kepada karyawan supaya dapat meningkatkan kinerja dan produktivitasnya.

Definisi / Pengertian Lingkungan Kerja Menurut Para Ahli

Pengertian Lingkungan Kerja

Pengertian Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja merupakan kehidupan sosial, psikologi, dan fisik dalam perusahaan yang berpengaruh terhadap pekerja dalam melaksanakan tugasnya. Kehidupan manusia tidak terlepas dari berbagai keadaan lingkungan sekitarnya, antara manusia dan lingkungan terdapat hubungan yang sangat erat. Dalam hal ini, manusia akan selalu berusaha untuk beradaptasi dengan berbagai keadaan lingkungan sekitarnya. Demikian pula halnya ketika melakukan pekerjaan, karyawan sebagai manusia tidak dapat dipisahkan dari berbagai keadaan disekitar tempat mereka bekerja, yaitu lingkungan kerja. Selama melakukan pekerjaan, setiap pegawai akan berinteraksi dengan berbagai kondisi yang terdapat dalam lingkungan kerja.

Lingkungan kerja merupakan sesuatu yang ada disekitar para pekerja dan yang mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan (Nitisemito, 2009:25). Selanjutnya menurut Sedarmayati (2008:1) lingkungan kerja yaitu kseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya dimana seseorang bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai perseorangan maupun sebagai kelompok.

Kondisi lingkungan kerja dikatakan baik atau sesuai apabila manusia dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman, dan nyaman. Kesesuaian lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya dalam jangka waktu yang lama lebih jauh lagi lingkungan-lingkungan kerja yang kurang baik dapat menuntut tenaga kerja dan waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung diperolehnya rancangan sistem kerja yang efisien (Sedarmayanti, 2008:12).

Menurut Bambang (2004:122), lingkungan kerja yaitu salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja seorang pegawai. Seorang pegawai yang bekerja di lingkungan kerja yang mendukung dia untuk bekerja secara optimal akan menghasilkan kinerja yang baik, sebaliknya jika seorang pegawai bekerja dalam lingkungan kerja yang tidak memadai dan tidak mendukung untuk bekerja secara optimal akan membuat pegawai yang bersangkutan menjadi malas, cepat lelah sehingga kinerja pegawai tersebut akan rendah.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja yaitu segala sesuatu yang ada disekitar pegawai pada saat bekerja, baik berbentuk fisik atau non fisik, langsung atau tidak langsung, yang dapat mempengaruhi dirinya dan pekerjaannya saat bekerja.

Jenis Lingkungan Kerja 

Secara garis besar, jenis lingkungan kerja terbagi menjadi dua, yaitu (Sedarmayanti, 2001:21):
a. Lingkungan Kerja Fisik 
Lingkungan kerja fisik merupakan semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat disekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi pegawai baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan kerja fisik dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu:
  1. Lingkungan kerja yang langsung berhubungan dengan pegawai seperti pusat kerja, kursi, meja, dan sebagainya. 
  2. Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga disebut lingkungan kerja yang mempengaruhi kondisi manusia misalnya temparatur, kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan, getaran mekanik, bau tidak sedap, warna dan lain-lain.
Untuk dapat memperkecil penguruh lingkungan fisik terhadap karyawan, maka langkah pertama harus mempelajari manusia, baik mengenal fisik dan tingkah lakunya, kemudian digunakan sebagai dasar memikirkan lingkungan fisik yang sesuai.
b. Lingkungan Kerja Non Fisik
Lingkungan kerja non fisik merupakan semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan, maupun hubungan dengan sesama rekan kerja ataupun hubungan dengan bawahan.

Perusahaan hendaknya dapat mencerminkan kondisi yang mendukung kerja sama antar tingkat atasan, bawahan maupun yang memiliki status yang sama. Kondisi yang hendaknya diciptakan merupakan suasana kekeluargaan, komunikasi yang baik, dan pengendalian diri (Nitisemito, 2009:171). Jadi lingkungan kerja non fisik ini juga yaitu kelompok lingkungan kerja yang tidak bisa diabaikan.

Manfaat Lingkungan Kerja 

Menurut Ishak dan Tanjung (2006), manfaat lingkungan kerja merupakan menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas dan prestasi kerja meningkat. Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang termotivasi merupakan pekerjaan dapat terselesaikan dengan tepat,  yang artinya pekerjaan diselesaikan sesuai standar yang benar dan dalam skala waktu yagn ditentukan. Prestasi kerjanya akan dipantau oleh individu yang bersangkutan, dan tidak akan menimbulkan terlalu banyak pengawasan serta semangat juangnya akan tinggi.

Referensi
  • Arep, Ishak dan Hendri Tanjung. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Universitas Trisakti: Jakarta.
  • Bambang, Kusriyanto. 2004. Meningkatkan Produktvitas Karyawan. Pustaka Binaman Pressindo: Jakarta.
  • Nitisemito, Alex S. 2009. Manajemen Personalian: Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi 3. Ghaila Indonesia: Jakarta
  • Sedarmaynti. 2008. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Mandar Maju: Bandung.

Definisi / Pengertian Kepuasan Kerja Menurut Para Ahli

Pengertian Kepuasan Kerja

Konsep Kepuasan Kerja

Dalam organisasi industri, dikenal berbagai sumber daya yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan organisasi seperti manusia atau tenaga kerja, material, mesin, metode, uang dan pasar. Sebelum ilmu pengetahuan maupun teknologi berkembang dengan pesat, terutama manajemen, para pekerja dipandang sebagai alat produksi semata. Namun akhir-akhir ini, pekerja telah dipandang sebagai sumber daya yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian khusus serta mendalam. Bagaimanapun baiknya organisasi, lengkapnya sarana dan fasilitas kerja, semuanya tidak akan mempunyai arti tanpa adanya manusia yang mengatur, menggunakan dan memeliharanya. Oleh karena itu, kalangan bisnis memasukan ”departemen personalia” dalam organisasi mereka (Dessler, 2006:10).

Organisasi sebagai wadah bagi sumber daya manusia, terbentuk karena adanya koordinasi dari sejumlah kegiatan manusia. Organisasi perusahaan terdiri dari kelompok-kelompok tenaga kerja yang bekerja saling berinteraksi dalam suatu struktur tertentu. Interaksi antar kelompok-kelompok kerja ini adalah untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam organisasi perusahaan, tidak semua pekerja atau karyawan bekerja secara optimal. Hal ini tampak bahwa tidak semua karyawan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik seperti yang diharapkan oleh perusahaan. Sikap karyawan yang berkaitan dengan kepuasan kerja dan komitmen organisasi merupakan fokus utama manajemen sumber daya manusia dalam perusahaan (Luthan, 2006:243).

Kondisi kepuasan kerja yang rendah dapat menyebabkan karyawan bosan dengan tugas-tugasnya, cepat atau lambat tidak dapat diandalkan, menjadi mangkir serta prestasi kerjanya buruk. Apabila karyawan merasa tidak puas, konsekuensinya, karyawan akan berpikir untuk berhenti bekerja, mengevaluasi perlunya mencari pekerjaan baru dan mengevalusi kerugian-kerugian apabila berhenti dari pekerjaan, berniat untuk mencari alternatif pekerjaan lain, sampai pada akhirnya mengambil tindakan untuk berhenti dari pekerjaan mereka (Hasibuan, 2009:2002).

Sebaliknya, apabila karyawan memperoleh kepuasan kerja maka akan mempengaruhi kondisi kerja yang positif dan dinamis. Kondisi kerja yang dinamis ditunjukkan pada pekerjaan yang memberi kesempatan bagi individu untuk berpikir kreatif, mempunyai kebebasan dalam bekerja dan mempunyai kontrol terhadap pekerjaannya. Salah satu hal yang menjadi indikator rendahnya kepuasan kerja adalah kemangkiran. Karyawan yang tidak puas besar kemungkinannya untuk tidak masuk kerja. Perilaku terlambat datang ketempat kerja dan tidak masuk kerja dianggap sebagai perilaku yang tidak efisien bagi perusahaan, hal ini tentu aja menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus senantiasa mempunyai perhatian terhadap karyawan yang dimilikinya (Hasibuan, 2003:2002).

Pengertian Kepuasan Kerja

Lock (dalam Luthans, 2006:243) menjelaskan bahwa kepuasan kerja merupakan suatu ungkapan emosional yang bersifat positif atau menyenangkan sebagai hasil dari penilaian terhadap suatu pekerjaan atau pengalaman kerja.

Menurut Robbins (1996) dalam Sopiah (2008:170) kepuasan kerja merupakan sikap umum seorang karyawan terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja dirasakan karyawan setelah karyawan tersebut membandingkan antara apa yang dia harapkan akan dia peroleh dari hasil kerjanya dengan apa yang sebenarnya dia peroleh dari hasil kerjanya (Sopiah, 2008: 171).

Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah suatu keadaan perasaan yang menyenangkan atas pekerjaannya yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Pada equity theory yang dikemukakan oleh Adam (1963) dalam Sopiah (2008: 172) yang menyatakan bahwa karyawan atau individu akan merasa puas terhadap aspek-aspek khusus dari pekerjaan mereka. Aspek-aspek pekerjaan yang dimaksud, misalnya gaji/ upah, rekan kerja dan supervisi. Individu atau karyawan akan merasa puas bila jumlah aspek yang sebenarnya atau sesungguhnya dia terima sesuai dengan yang seharusnya dia terima. Equty theory ini membantu untuk memahami bagaimana seorang pegawai mencapai kesimpulan bahwa ia diperlakukan dengan adil atau tidak adil. Perasaan bahwa ia diperlakukan adil dan tidak adil merupakan pemikiran subyektif tentang apa yang telah ia berikan kepada pegawainya dan apa yang ia peroleh dari pegawainya itu. Perasaan subyektif inilah yang akhirnya akan mempengaruhi kepuasan kerja. Untuk itu pimpinan harus mengetahui bahwa bawahan membandingkan imbalan mereka,
hukuman, tugas-tugas serta dimensi lain dari pegawai terhadap pegawai lain (Sulistiyani dan Rosidah, 2003: 192).

Pimpinan harus senantiasa memonitor kepuasan kerja, karena hal itu mempengaruhi tingkat absensi, perputaran tenaga kerja, semangat kerja, keluhan-keluhan dan masalah-masalah lainnya.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa kepuasan merupakan ungkapan emosional karyawan sebagai hasil perbandingan antara penghargaan yang diterima karyawan dengan harapan karyawan atas pekerjaan yang dilakukan.

Definisi / Pengertian Kinerja Menurut Para Ahli

Definisi / Pengertian Kinerja Menurut Para Ahli

Pengertian Kinerja

Pengertian Kinerja merupakan suatu hasil kerja yang dihasilkan oleh seorang pegawai diartikan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Adapun pendapat para ahli mengenai pengertian kinerja, sebagai berikut :

Menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2009:67) mengemukakan bahwa:”Kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”

Menurut Sedarmayanti (2011:260) mengungkapkan bahwa :“Kinerja merupakan terjemahan dari performance yang berarti Hasil kerja seorang pekerja, sebuah proses manajemen atau suatu organisasi secara keseluruhan, dimana hasil kerja tersebut harus dapat ditunjukkan buktinya secara konkrit dan dapat diukur (dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan).”

Menurut Wibowo (2010 : 7) mengemukakan bahwa :“Kinerja merupakan tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut.”

Soekidjo Notoatmodjo (2009:124) mengemukakan bahwa: “Kinerja merupakan apa yang dapat dikerjakan oleh seseorang sesuai dengan tugas dan fungsinya.”

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat dikemukakan bahwa kinerja merupakan suatu hasil kerja yang dicapai oleh seorang pegawai sesuai dengan standar dan kriteria yang telah ditetapkan dalam kurun waktu tertentu.

Indikator Kinerja

Anwar Prabu Mangkunegara (2009 : 75) mengemukakan bahwa indikator kinerja, yaitu sebagai berikut:
  1. Kualitas: Kualitas kerja merupakan seberapa baik seorang karyawan mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan.
  2. Kuantitas: Kuantitas kerja merupakan seberapa lama seorang pegawai bekerja dalam satu harinya. Kuantitas kerja ini dapat dilihat dari kecepatan kerja setiap pegawai itu masing-masing.
  3. Pelaksanaan tugas: Pelaksanaan Tugas merupakan seberapa jauh karyawan mampu melakukan pekerjaannya dengan akurat atau tidak ada kesalahan.
  4. Tanggung Jawab: Tanggung jawab terhadap pekerjaan merupakan kesadaran akan kewajiban karyawan untuk melaksanakan pekerjaan yang diberikan perusahaan.

Faktor yang Mempengaruhi Kinerja

Tinggi rendahnya kinerja seorang pegawai tentunya ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhinya baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Anwar Prabu Mangkunegara (2009:67) menyatakan bahwa:“Faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja merupakan faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation). Sedangkan menurut Keith Davis dalam Anwar prabu Mangkunegara (2009:67) dirumuskan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja merupakan :
  • Human Performance = Ability + Motivation
  • Motivation = Attitude + Situation
  • Ability = Knowledge + Skill
a. Faktor Kemampuan
Secara psikologis, kemampuan (Ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge + Skill). Artinya, pegawai yang memiliki IQ rata-rata (IQ 110 – 120) dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaannya sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai prestasi kerja yang diharapkan. Oleh karena itu, pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya (the right man on the right place, the right man on the right job).

b. Faktor Motivasi
Motivasi terbentuk dari sikap seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja).

Sikap mental merupakan kondisi mental yang mendorong diri pegawai untuk berusaha mencapai prestasi kerja secara maksimal. Sikap mental seorang pegawai harus sikap mental yang siap secara psikofisik (sikap secara mental, fisik, tujuan dan situasi). Artinya seorang pegawai harus siap mental, mampu secara fisik, memahami tujuan utama dan target kerja yang akan dicapai serta mampu memanfaatkan dan menciptakan situasi kerja.

Menurut A. Dale Timple yang dikutip oleh Anwar Prabu Mangkunegara (2006:15) faktor-faktor kinerja terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal :

“Faktor internal yaitu faktor yang dihubungkan dengan sifat-sifat seseorang. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yang berasal dari lingkungan. Seperti perilaku, sikap, dan tindakan-tindakan rekan kerja, bawahan atau pimpinan, fasilitas kerja, dan iklim organisasi.”

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi kinerja dapat bersumber dari dalam individu pegawai maupun dari luar individu. Tinggal bagaimana kebijakan organisasi mampu menyelaraskan antara faktor-faktor tersebut.

Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja merupakan faktor kunci dalam mengembangkan potensi pegawai secara efektif dan efisien karena adanya kebijakan atau program yang lebih baik atas sumberdaya manusia yang ada di dalam suatu organisasi. Penilaian kinerja individu sangat bermanfaat bagi pertumbuhan organisasi secara keseluruhan.

Menurut Bernardin dan Russel (2010:190-191), mengemukakan bahwa: “Penilaian kinerja merupakan cara mengukur kontribusi individu (karyawan) pada organisasi tempat mereka bekerja”.

Menurut Sedarmayanti (2011:261), mengemukakan bahwa:  “Penilaian kinerja merupakan sistem formal untuk memeriksa/mengkaji dan mengevaluasi secara berkala kinerja seserang.”

Dari uraian di atas dapat disimpulkan  bahwa penilaian kinerja pegawai sangat perlu dilakukakan, karena dapat dijadikan sebagai evaluasi terhadap setiap pegawai oleh kepala bidang dan kepala dinas dalam Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan untuk proses tindak lanjut setelah mengetahui apa kekurangan dan kelebihan dari kinerja bawahannya, maka kepala bidang dan kepala dinas dapat mengetahui tindakan apa yang harus diambil untuk mengatasi kekurangan serta mempertahankan kelebihan tersebut, sehingga akan  berdampak pada pengambilan keputusan yang strategis mengenai hasil evaluasi kinerja serta komunikasi yang telah dilakukan oleh atasan dan bawahan sehingga tujuan instansi akan cepat tercapai.

Tujuan Penilaian Kinerja

Menurut Syafarudin Alwi yang dikutip oleh Khaerul Umam (2010:191), mengemukakan bahwa:
Secara teoritis, tujuan penilaian kinerja dikategorikan sebagai suatu yang bersifat evaluation dan development.
Suatu yang bersifat evaluation harus menyelesaikan:
  • Hasil penilaian digunakan sebagai dasar pemberian kompensasi
  • Hasil penilaian digunakan sebagai staffing decision
  • Hasil penilaian digunakan sebagai dasar mengevaluasi sistem seleksi
Sedangkan yang bersifat development Penilai harus menyelesaikan:
  • Prestasi real yang dicapai individu
  • Kelemahan-kelemahan individu yang menghambat kinerja
  • Prestasi-prestasi yang dikembangkan
Menurut Sedarmayanti (2011:262) menjelaskan bahwa tujuan penilaian kinerja merupakan:
  1. Meningkatkan kinerja karyawan dengan cara membantu mereka agar menyadari dan menggunakan seluruh potensi mereka dalam mewujudkan tujuan organisasi.
  2. Memberikan informasi kepada karyawan dan pimpinan sebagai dasar untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan.
Dari definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa penilaian kinerja merupakan serangkaian proses untuk mengevaluasi proses atau hasil kerja seorang pegawai untuk memudahkan pimpinan (Kepala Bidang dan Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan) dalam menentukan kebijakan bagi pegawai tersebut yang berkaitan dengan pekerjaan atau jabatannya.

Manfaat Penilaian Kinerja

Menurut Khaerul Umam (2010:101), mengemukakan bahwa:
Kontribusi hasil penilaian merupakan suatu yang sangat bermanfaat bagi perencanaan kebijakan organisasi.secara terperinci, penilaian kinerja bagi organisasi merupakan:
  1. Penyesuaian-penyesuaian kompensasi
  2. Perbaikan kinerja
  3. Kebutuhan latihan dan pengembangan
  4. pengambilan keputusan dalam hal penempatan promosi, mutasi, pemecatan, pemberhentian, dan perencanaan tenaga kerja
  5. Untuk kepentingan penelitian pegawai
  6. Membantu diagnosis terhadap kesalahan desain pegawai.
Berdasarkan beberapa uraian diatas maka kinerja individual dapat diukur, dimana pada tingkat individu ini berhubungan dengan pekerjaan, mengacu kepada tanggungjawab utama. Bidang kegiatan utama atau tugas kunci yang merupakan bagian dari pekerjaan seseorang. Fokusnya kepada hasil yang diharapkan dapat dicapai seseorang dan bagaimana kontribusi mereka terhadap pencapaian target per orang, tim, departemen dan instansi serta penegakan nilai dasar Instansi.

Sabtu, 14 Oktober 2017

Analisis Dampak Deferensiasi Produk dan Inovasi Produk Asus Zenfone Terhadap Keputusan Pembelian

Analisis Dampak Deferensiasi Produk dan Inovasi Produk Asus Zenfone Terhadap Keputusan Pembelian

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Seiring dengan kemajuan dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, bidang telekomunikasi juga mengalami kemajuan yg sangat pesat. Komunikasi merupakan suatu hal penting yg dianggap mampu membantu hidup manusia. Sejak ditemukannya komunikasi, gerak hidup manusia menjadi berubah, lebih mudah dan terasa dekat. Semakin lama pola pikir manusia berubah seiring perkembangan jaman, konsumen yg dulunya hanya menggunakan alat komunikasi, kini konsumen membutuhkan  produk dengan pembaruan seperti deferensiasi dan inovasi terhadap produknya. Oleh karena itu Perusahaan Asus Zenfone sebagai perusahaan yg bergerak di bidang teknologi komunikasi, maka berusaha untuk menciptakan produk yg berkualitas di hati masyarakat/konsumen dengan cara melakukan defernsiasi dan inovasi produknya fitur-fitur terbaik bagi konsumennya.

Perusahaan Asus Zenfone adalah perusahaan teknologi komunikasi dengan menyediakan produk dengan kualitas terbaik yg mampu menyaingi perusahaan-perusahaan lain. Asus Zenfone banyak manyediakan fitur-fitur aplikasi pada produknya, salah satunya adalah Asus Zenfone Mesenger atau terkenal dengan BBM. Banyak perusahaan di seluruh dunia memanfaatkan aplikasi BBM milik Asus Zenfone dengan membayar royalty pada perusahaan induknya.

Perusahaan perusahaan besar saat ini berusaha keras untuk mendapatkan posisi terkemuka di pasar, daripada harus menerima posisi di peringkat ke dua di pasar, maka perusahaan perusahaan menekankan untuk mempertahankan pelanggan dan bukan sekedar mendapatkan pelanggan yg baru. Perusahaan juga harus memperluas bauran tawaran mereka dalam upaya untuk mendapatkan pangsa pelanggan serta bukan sekedar pangsa pasar. Selain itu perusahaan harus mengidentifikasi pelanggan. Penjual yg mampu menghasilkan laba dan memberikan layanan istimewa, perusahaan harus mendasarkan keputusan penjual pada nilai masa hidup pelanggan dan bukan pada maksimasi laba saat ini.

Perusahaan harus, menyadari bahwa pelanggan saat ini menemukan banyak sekali produk dalam berbagai kombinasi barang dan jasa pada tingkat harga tertentu, serta harapan pembeli akan mutu dan pelayanan yg terus meningkat. Di tengah pilihan yg begitu banyak, pelanggan cenderung memilih tawaran yg paling sesuai dengan kebutuhan serta harapan masing masing. pembeli berdasarkan pandangan nilai beli, karena itu tidak heran bahwa perusahaan yg unggul pada masa kini adalah perusahaan yg berhasil memuaskan bahkan menyenangkan pelanggan sasaran.

Di Kota Banda Aceh terdapat masyarakat yg merupakan kebanyakan masyarakat dari golongan menengah kebawah, dari hasil pengamatan penulis yg bahwa masyarakat di Kota Banda Aceh bekerja sebagai petani, pegawai swasta dan sebagian kecil sebagai PNS. Akibat hadirnya Hand Phone Asus Zenfone semakin terasa beban dari kalangan orang tua yg memiki anak-anak berusia dewasa dan sudah mengetahui kecanggihan dunia. Lebih parah lagi di Era keadaan ekonomi yg tidak menetu masyarakat Banda Aceh di hadapkan pada persoalan gaya hidup anak-anaknya.

Pada tahun 2011 awal mula masuknya alat komunikasi yg bermerek  Asus Zenfone, banyak konsumen  sudah terkontaminasi oleh kecanggihan teknologi komunikasi, namun masih ada konsumen yg bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Pada tahun selanjutnya konsumen  sudah tidak bisa di bendung lagi keinginan untuk mencoba hal yg baru menygkut alat komunikasi (Hand Phone). Model yg dirancang sudah tidak mampu menghalangi para konsumen  untuk menggunakan Hand Phone Asus Zenfone. Hari demi hari keberadaan Asus Zenfone sudah menguasai semua kebutuhan konsumen khususnya di Kecamatan Mutiara Barat. Beranjak dari model produknya, konsumen  sudah di pengaruhi oleh gaya hidup yg semakin merajalela, dimana konsumen-konsumen  tidak peduli dengan keadaan ekonomi orang tuanya karena sibuk mengurusi tuntutan gaya hidupnya yg sudah tak terbendung lagi. Pertumbuhan pengguna Asus Zenfone semakin pesat seiring dengan berkem bangnya ragam telekomunikasi sehingga Asus Zenfone sudah dapat dipeoleh dimana saja, Jumlah pemakai Asus Zenfone terbesar adalah pada kaum konsumen  dan setiap tahunnya terus meningkat, hasil tersebut sesuai dengan hasil pengamatan saya.

Dengan semakin banyaknya perusahaan yg menghasilkan produk sejenis, juga berbagai perusahaan lainya yg menyajikan produk serupa, keberhasilan perusahaan dalam memasarkan produknya ditentukan melalui proses riset pasar yg relevan yg mampu mengidentifikasi peluang untuk memudahkan dalam menentukan strategi pemasaran. Diferensiasi produk adalah bagaimana perusahaan menawarkan produk perusahaan yg memiliki keunggulan kompetitif (memiliki sesuatu yg lebih baik), unik untuk membedakan tawaran perusahaan dengan tawaran pesaing. Dengan demikian dapat memaksimalkan total penjualan sebagai dasar memasuki dan memenangkan persaingan. Inovasi merupakan sebuah ide, praktek, atau obyek yg dipahami sebagai sesuatu yg baru oleh masing-masing individu atau unit pengguna lainnya. Proses keputusan inovasi pada prinsipnya merupakan kegiatan pencarian dan pemrosesan informasi dimana individu termotivasi untuk mengurangi ketidakpastian tentang keuntungan dan kekurangan inovasi. Karakteristik inovasi terdiri dari: keuntungan relatif dalam bidang ekonomi, (faktor prestise sosial, kenyamanan dan kepuasan), ketahanan/kekuatan (tingkat dimana inovasi dipersepsikan sebagai sesuatu yg konsisten dengan nilai yg ada, pengalaman-pengalaman masa lalu, dan kebutuhan akan para pengguna yg potensial), kompleksitas (tingkat dimana inovasi dipersepsikan sebagai sesuatu yg sulit untuk dimengerti dan digunakan), daya uji coba (tingkat dimana inovasi dalam batas–batas tertentu dapat diujicobakan), observabilitas (tingkat dimana hasil hasil-hasil inovasi dapat dilihat oleh pihak lain).

Peluncuran produk baru tidaklah mudah, sebab pengembangan produk baru memerlukan biaya dan produk tersebut haruslah mempunyai nilai dibanding produk lain yg sejenis. Sehingga kemampuan berinovasi sangat diperlukan perusahaan. Kemampuan berinovasi merupakan tingkatan dimana individu/unit pengguna mengadopsi ide baru lebih awal daripada anggota sistem lainnya. Untuk memenangkan persaingan perusahaan harus melakukan inovasi. Inovasi akan meningkatkan nilai tambah dari suatu produk, inovasi akan menciptakan suatu produk baru yg dapat memberikan solusi yg lebih baik bagi pemecahan masalah yg dihadapi konsumen. Inovasi harus mampu membuat produk berbeda di mata konsumen sehingga konsumen lebih tertarik membeli produk tersebut dibandingkan produk pesaing.

Kunci dari inovasi adalah sumberdaya manusia yg menggerakkan perusahaan tersebut. Perusahaan membutuhkan sumberdaya manusia yg terus menerus mampu berkreatifitas untuk menciptakan produk baru dan meningkatkan kualitas produk. Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas, maka akan diteliti tentang “Analisis Dampak Deferensiasi Produk dan Inovasi Produk Asus Zenfone Terhadap Keputusan Pembelian (Studi Kasus Pada Masyarakat Kota Banda Aceh)”.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai sebagai berikut:
  1. Apakah deferensiasi produk berdampak terhadap keputusan pembelian Asus Zenfone di Kota Banda Aceh?
  2. Apakah inovasi produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian Asus Zenfone di Kota Banda Aceh?
  3. Dari variabel yg diteliti, variabel mana yg dominan mempengaruhi keputusan pembelian Asus Zenfone di Kota Banda Aceh?
1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Penulis menjadikan deferensiasi produk dan inovasi produk sebagai variabel bebas dan keputusan pembelian sebagai variabel terikat.
  2. Penulis menjadikan beberapa desa yg ada pada kemukiman dalam Kota Banda Aceh sebagai lokasi penelitian.
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui apakah deferensiasi produk dan inovasi produk berdampak terhadap keputusan pembelian Asus Zenfone di Kota Banda Aceh.
  2. Untuk mengetahui bagaimana variabel mana yg dominan mempenga ruhi keputusan pembelian Asus Zenfone di Kota Banda Aceh.
1.4 Manfaat Penelitian
  1. Bagi Penulis, dari penelitian ini diharapkan dapat menambah pemahaman tentang dampak deferensiasi dan inovasi produk terhadap keputusan pembelian. 
  2. Bagi Perusahaan, dari penelitian ini diharapakan juga memperoleh suatu gambaran terkait dalam mencapai visi dan misi perusahaan.
  3. Bagi pihak lain, sebagai bahan referensi dalam hal untuk melakukan penelitian menygkut tentang pengaruh deferensiasi produk dan inovasi terhadap keputusan pembelian. 
Untuk file lengkap silakan hubungi : 085275077070

Pengaruh Partipasi Pemakai dan Kompetensi Pegawai Terhadap Kepuasan Pelanggan pada Toko Kosmetik Zahra Kota Kota Banda Aceh

Pengaruh Partipasi Pemakai dan Kompetensi Pegawai Terhadap Kepuasan Pelanggan
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Dewasa ini, perusahaan diperhadapkan pada kondisi persaingan yang semakin meningkat dalam keterbukaan bisnis. Kondisi ini menuntut perusahaan harus lebih kreatif inovatif dengan menawarkan sesuatu yang bernilai lebih, dibanding yang dilakukan pesaing. Inilah yang dituntut oleh pasar yang menjadi fokus atau sasaran untuk bersaing. Pada umumnya perusahaan berupaya untuk memenuhi harapan konsumen, dengan membangun kepercayaan dalam suatu hubungan jangka panjang antara perusahaan dan pelanggannya. Hubungan ini harus dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu misalnya pelayanannya, kualitas produknya, dan sebagainya. Dengan demikian persepsi-persepsi yang negatif terhadap perusahan, akan berubah pada sesuatu yang dirasakan oleh konsumen, yang secara langsung dapat mengubah persepsi dimaksud pada suatu kepuasan dan dapat menciptakan komitmen untuk menggunakan produk yang ditawarkan perusahaan pada pasar sasarannya.

Berkembangnya Usaha Parfume di Kota Kota Banda Aceh tentu sangat berpengaruh bagi bangsa Indonesia, dimana terdapat banyak jenis dan model hasil-hasil tekstil dari berbagai bahan yang ada. Kebutuhan akan pakaian sekarang ini tidak hanya sekedar sebagai pelindung badan melainkan telah menjadi gaya hidup dengan jenis model pakaian yang mengikuti jaman. Usaha Parfume telah menjadi salah satu hal yang sangat popular di Kota Kota Banda Aceh. Parfume telah ditujukan kepada semua kalangan usia dengan dengan berbagai jenis bau-buan yang mengikuti trend-trend yang ada, yang tidak hanya digunakan pada hari-hari tertentu saja, akan tetapi parfume telah menjadi kebutuhan masyarakat untuk memenuhi hajat kemanusiaan. Maraknya persaingan yang ada di pasar parfume tentu akan menimbulkan masalah bagi pemilik usaha itu sendiri, dimana terjadi kompetisi didalam menarik konsumen sebanyak mungkin. Untuk menarik minat para pembeli, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan perbaikan sistem pemasaran yang efektif. Pemasaran efektif dalam penerapannya bukan hanya bagaimana meningkatkan volume penjualan tetapi juga mengamati tingkah laku konsumen serta memenuhi keinginan konsumen melalui usaha perbaikan kompetensi pegawai dan melihat sebesar mana partisipasi pegawai terhadap penggunaan parfume.

Dalam kaiatannya dengan uraian tersebut di atas maka salah satu langkah strategis yang dilakukan oleh perusahaan adalah menyusun suatu rencana yang komprehensif dan menyeluruh disertai dengan berbagai kebijaksanaan untuk dijadikan sebagai pedoman dalam mengimplementasikan rencana. Penyusunan rencana komprehensif yang dimaksud atau corporate planning bertujuan agar setiap pengambilan keputusan tidak didasarkan pada Interprestasi tersendiri dari bagian atau pengelolanya, tetapi harus berdasarkan pada rencana yang sifatnya menyeluruh.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Kosmetik Zahra dalam melakukan pemasaran adalah dengan meninjau secara jelas apa dan bagaimana prilaku pelanggan juga peran pelanggan dari perjalanan bisnisnya. Di samping itu Kosmetik Zahra juga dituntut untuk lebih meningkatkan kompetensi dari pada pegawainya supaya pegawai dapat melayani pelanggan secara maksimal dan bisa melakukan pendekatan terhadap keberadaan pelanggan. Salah satu cara meningkatkan kompetensi pegawai adalah dengan melakukan pelatihan atau pembelajaran khusus dalam hal melayani maupun dalam mengolah produk parfumenya. Oleh karena itulah pembekalan maupun pembelajaran khusus untuk pelanggan jangan pernah di kesampingkan, mengingat kompetensi pegawai merupakan aset paling berharga dalam usaha parfume.  Perusahaan Kosmetik Zahra harus dapat memberikan gambaran yang jelas dan teratur tentang apa yang dilakukan oleh pegawai dan bagaimana menggunakan setiap kesempatan atau peluang pada beberapa sasaran pasar.

Kosmetik Zahra adalah perusahaan yang bergerak dibidang penjualan parfume dengan berbagai jenis atau tingkat harga, Sehingga dalam perkembangan penjualan parfume dapat meningkatkan omset penjualannya dengan cara menarik minat pelanggan dan membuat pelanggan puas. Dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, seringkali perusahaan dihadapkan pada berbagai masalah, seperti kesulitan di dalam meningkatkan kepuasan pelanggan, adanya persaingan yang ketat dari perusahaan sejenis, semakin kompleksnya perilaku konsumen terhadap suatu produk, selera konsumen yang selalu berubah-ubah, serta kondisi ekonomi yang kurang menentu. Setiap kegiatan usaha yang bergerak dalam bidang pemasaran produk  atau jasa, perlu dikelola secara efisien dan efektif guna mencapai tujuan usaha yang optimal, oleh karena itu sangat diperlukan adanya penerapan fungsi manajemen disamping memperhatikan pengaruh dari berbagai aspek.

Menurut konsep pemasaran berhasilnya suatu perusahaan apabila perusahaan tersebut dapat memenuhi kebutuhan konsumen dengan lebih baik, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah memasuki era kompetisi. Maka dari itu langkah-langkah yang mungkin harus diterapkan oleh Kosmetik Zahra seperti pembahasan sebelumnya mungkin sangatlah cocok yaitu meninjau sejauh mana partisipasi pelanggan dan kompetensi pegawai dalam aktivitas pemasarannya. Langkah-langkah strategis yang direncanakan harus sesuai dengan kondisi pelanggan dan lokasi usaha supaya apa yang direncanakan dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Partisipasi pemakai merupakan salah satu faktor penting dalam keberlangsungan usaha, karena Partisipasi pemakai mungkin tidak harus diartikan bahwa produk yang dijual sudah terjual, melainkan pemakai pernah memakai parfume pada toko dimaksud walaupun hanya sekali, namun pemakai tersebut mempromosikan dengan secara tidak langsung kepada pelanggan yang lain, oleh sebab itulah partisipasi pemakai sangat penting untuk di perhitungkan mengingat pemakai adalah media promosi tampa harus mengeluarkan biaya sedikitpun.

Selanjutnya kompetensi pegawai adalah salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam keberlangsungan usaha, baik usaha pemasaran produk atau jasa. Khususnya pada usaha Kosmetik Zahra kompetensi pegawai sangat layak untuk diperhitungkan, karena kompetensi pegawai adalah motor penggerak suatu  usaha. Dimana kalau suatu usaha tidak memilki pegawai yang kompete, maka usaha tersebut bisa dikatakan gagal. Alasannya, pada usaha yang bergerak di bidang pemasaran khususnya pemasaran parfume memerlukan pegawai yang bisa mengolah parfume yang diminati pelanggan.contohnya; pelanggan lebih cenderung memilih parfume yang berkelas (kualitas bagus), dan kompeten pegawai dalam melayani pelanggan dan lain-lain sebagainya.

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul“Pengaruh Partipasi Pemakai dan Kompetensi Pegawai Terhadap Kepuasan Pelanggan pada Toko Kosmetik Zahra Kota Kota Banda Aceh”.

1. 2  Rumusan Masalah
Berpijak dari latar belakang permasalahan di atas, maka penulis dapat merumuskan  pertanyaan penelitian sebagai berikut:
  1. Apakah partipasi pemakai berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan pada toko Kosmetik Zahra kota Kota Banda Aceh?
  2. Apakah kompetensi pegawai berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan pada toko Kosmetik Zahra kota Kota Banda Aceh?
  3. Diantara kedua variabel dalam penelitian ini, variabel manakah yang paling dominan mempengaruhi kepuasan pelanggan pada toko Kosmetik Zahra kota Kota Banda Aceh?
1.3  Tujuan Penelitian 
Dari hasil penelitian ini hendaknya memiliki tujuan, adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh partipasi pemakai terhadap kepuasan pelanggan pada toko Kosmetik Zahra kota Kota Banda Aceh.
  2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh kompetensi pegawai terhadap kepuasan pelanggan pada toko Kosmetik Zahra kota Kota Banda Aceh.
  3. Untuk mengetahui variabel manakah yang paling dominan mempengaruhi kepuasan pelanggan pada toko Kosmetik Zahra kota Kota Banda Aceh?
1.4  Manfaat  Penelitian 
  1. Manfaat yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
  2. Manfaat Teoritis : Sebagai landasan penelitian yang akan datang, serta dapat menambah pengetahuan dan mengidentifikasi permasalahan serta dapat memberikan pemecahan masalah bagi masalah yang dihadapi. 
  3. Bagi usaha Kosmetik Zahra: Sebagai sumber informasi bagi pihak usaha Kosmetik Zahra dalam usaha meningkatkan strategi pemasarannya agar dapat meningkatkan kepuasan pelanggan dalam melakukan perbelanjaan. 
  4. Bagi Peneliti: Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi penulis khususnya tentang ilmu ekonomi dibidang pemasaran sehingga akan bermanfaat bagi peneliti selanjutnya.
Untuk file lengkap silakan hubungi : 085275077070

Pengertian Pemasaran Jasa Menurut Para Ahli

Pengertian Pemasaran Jasa Dalam konsep pemasaran modern telah dikatakan bahwa titik tolak dari kegiatan pemasaran ialah mengetahui kebu...